Rabu, 14 Oktober 2015

Manusia adalah gudang kebimbangan. Manusia takkan pernah bisa luput dari dilema kebimbangan. Manusia selalu penuh dengan keraguan, kekhawatiran, ketakutan, keserakahan, kemunafikan. Manusia selalu di kelililngi oleh godaan hawa nafsu. Cinta, kasih sayang, tulus,ikhlas, tanpa pamrih memang akan membersihkan segalanya. Namun tak jarang pula manusia dibutakan oleh cinta. Cinta memang membuat semuanya terasa manis, namun bagaimana jika semua itu hanya fatamorgana kehidupan. Bagaimana jika semua itu akan menghambat sesuatu yang seharusnya terjadi ?

Memang benar tak ada yg salah tentang cinta. Cinta itu suci walau sering dikambing hitamkan. Cinta Allah SWT kepada umatnya merupakan satu contoh kesempurnaan cinta suci. Tanpa pamrih, tanpa berharap. Hanya memberi ... memberi sinergi positif untuk menggapai hal positif.

Dunia memang datar tanpa cinta. Bahkan mustahil dunia tanpa cinta. Karena dunia memang terlahir karena cinta.

Cinta kepada Allah SWT. Cinta kepada Ibu, keluarga, teman. Saat ini hanya itu yg kutahu. Aku masih mencoba mngerti. Aku tak lihai dalam urusan cinta selain itu. Aku tak tau cara bermain dalam hal itu.Maafkan aku yg tak seperti mereka.

Aku hanyalah manusia biasa yg tak sempurna. Aku hanyalah manusia yg masih dipenuhi keraguan, kegelisahan, ketidaktahuan, dan prasangka. Wahai hati yg penuh keraguan, Kita sama-sama tau kemana kita harus mengadu untuk memantapkan hati menentukan suatu jawaban. Karena memang  banyak yg harus dipertimbangkan hanya untuk meyakinkan diri. Aku masih belajar memahami, mengenali, dan mengerti. Belum jelas terlihat niatmu. Aku butuh bimbingan bukan deretan kata rasa madu.  Karena memang untuk memantapkan satu hal itu sangat susah. Namun satu hal yg harus diyakini jika semua memang sudah tertulis maka sehebat apapun kita menghindarinya, sehebat apapun kita mendekatinya maka akan tetap terjadi.

(“Hadir dan mengalir”. Itulah air. Tidak pernah ada cerita air mentok. Dia pasti akan mencari jalanya sendiri bergerak kesegala arah :  WS. RENDRA )

 

 

 

 

Sabtu, 10 Oktober 2015

RASA YANG TAK TERUNGKAP


Telah kurenungkan kata terindah

Hingga musim telah berganti

Hujan telah menjadi pelangi

Namun tak kutemukan

...

Kuperhatikan sejenak lebih dalam

Wajah bahagia kita bertiga

Untuk yang kesekian kalinya

Hati ini bersenandung menciptakan puisi batin

Puisi yang begitu tulus

Hingga membuat air mata ini menetes

Aku berusaha kembali

Mencoba menggambil pena dan kertas kosong

Menuangkan apa yang aku rasakan

Menceritakan senandung batinku

Tetap saja tangan ini terasa sangat kaku

Pikiranku beku

Tak mampu menerjemahkan senandung bahagia hati ini


 

Bersyukur. Satu pesan dari mamahku yg selalu kuingat setiap kali aku mulai putus asa. Bersyukur , disaat sesempit apapun keadaanmu. Tetaplah bersyukur meski cobaan bertubi-tubi menghampirimu.Tetaplah bersyukur walau disaat tersulitmu. Selalu ingat ada kekuatan maha dahsyat yg akan tetap melindungi setiap umatnya. Sekali lagi rasakan dari hatimu betapa masih beruntungnya kita diantara banyak saudara kita. 

Renungkan, dan rasakan kenikmatan luar biasa dari bersyukur hingga terkadang air mataku tak sengaja menetes, tanda syukur kebahagiaan. Jangan pernah menyesali keadaan, karena sejatinya kitalah yg membuat ini semua terjadi. Syukuri saja apa yg sudah ada, terima...  jangan terlalu fokus mengeluh apa yg seharusnya kita dapat. Itu semua tak ada gunanya. 

Bersyukur bersyukur dan bersyukr.  Bersyukur tak hanya diukur dari materi. Kenikmatan tak hanya bersumber dari materi. Ketenangan jiwa adalah anugerah terbesar yg bisa dirasakan setiap insan manusia. Dimana kita akan merasakan indahnya nikmat dan karunia sang ilahi yg tak kan mungkin bisa kita hitung.  Bahkan ini akan terasa indah bila air matamu hingga dapat menetes menyadari betapa masih beruntungnya keadaan kita saat ini ditengah berbagai keluhan yg selalu kita ucapkan.




Ketika kenyataan lebih sering berjalan berlainan dengan arah harapan. Bukan berarti kita harus berhenti berharap. Itu merupakan pertanda kita harus menunduk. Bersyukur atas apa yang belum kita sadari sebagai anugerah yang tanpanya kita bukan apa-apa. Bukan masalah besar/kecil, ikhlas/pamrih, boleh/tidak, dan lain sebagainya. Bukan fisik yang penting untuk diperhatikan, cobalah mulai untuk memperhatikan lebih dalam hal-hal yang tak terlihat, yang ada didalam diri misalnya. Renungkanlah, untuk apa hakikatnya hidup kita ini. Berikan waktu sejenak saja untuk dirimu sendiri. Tanpa memikirkan persepsi orang lain, tanpa mengkhawatirkan masa depan, menyesali masa lalu dan lain sebagainya. Sekali lagi, cobalah berikan waktu untuk diri kita sendiri untuk menikmati saat sekarang ini, detik ini juga tanpa memikirkan hal-hal yg sudah saya sebutkan tadi. Disaat itulah dirimu sebenarnya muncul. Bersyukur, dengan mulai menerima dirimu apa adanya. Tak perlu menjadi siapapun. Tak perlu berpura-pura menjadi sosok yang menyenangkan. Sebaik-baiknya karakter seseorang adalah dengan menjadi dirisendiri. Sekian.