“Kita memiliki waktu yg lebih sedikit untuk berpikir. Kita
sering kali ‘sudah ditunggu‘ oleh apapun. Kita menjadi sering diburu-buru oleh
siapa saja. Kita kehilangan waktu untuk diam." - INDUKSI PPA
Sekelumit kalimat saat induksi PPA 4hampir 4 bulan lalu. Membuatku
teringat masa kecilku yg damai.
Entah mulai kapan waktu terasa begitu cepat. Seakan 24 jam
terasa tak cukup untuk melakukan berbagai kegiatan rutin. Jadi seperti ini
rasanya menjadi orang sibuk di kota yg super sibuk. Haii.. tak terasa waktu memang berlalu begitu
cepat. Rasanya baru kemarin aku terlahir sebagai seorang anak di desa sederhana
yang bersahaja. Desa dengan penduduk mayoritas muslim. Desa dengan profesi
penduduk yg bisa dihitung jari antara petani, pedagang, peternak, dan guru. Mushala yang tak pernah sepi setiap datang
panggilan 5 waktu. Jalanan yg setiap pagi di penuhi para warga baik ibu-ibu
dengan menggendong bakul di punggungnya maupun bapak-bapak berbekal celurit dan
tali dari pelepah pisang ke ladang maupun sawah. Dan bisa pastikan keadaan akan
ramai kembali menjelang pukul 12 siang, mereka semua akan pulang membawa hasil
ladang seperti kayu bakar, aneka buah dan sayur dll. Ahh sungguh kurindukan
saat-saat bertegur sapa dengan mereka.
Siapa bilang terlahir sebagai anak desa itu membosankan ?? Jujur
sampai detik ini selalu kurindukan masa kecilku yg bahagia di lingkungan
pedesaan. As your information aja nih ya,
Desaku cukup terkenal dikecamatan pringsurat bahkan sampai ke kabupaten
temanggung. Kenapa ?? karena terkenal makmurnya wkwkwk.. banyak komiditi
kualitas unggulan hasil dari sini seperti kelengkeng, AC, duku, langsep,
kokosan, salak pondoh, durian, madu murni dan masih banyak lagi. Jangan salah
ya walaupun masih sekelas home industry tapi karena terkenal kualitasnya banyak
lho pelanggan yg dari luar daerah seperti semarang, jakarta, bandung, bahkan
bisa sampai ke sumatera. Hebatt kann :*****
Mengenang masa kecil selalu membuatku senyum-senyum
sendiri. Masa bahagia, tanpa memikirkan
apapun, tanpa mengkhawatirkan hari esok. Saat itu yg kami tahu hanya bermain.
Berangkat sekolah pagi-pag ibareng satu kampung rame-rame sangat menyenangkan.
Sekolah kami agak jauh sekitar 200m dari rumah terletak didusun tetangga masih satu
desa. Biasanya kami berangkat sekolah jalan kaki tapi ada juga sih beberapa
anak manja yg dianter pake motor. Jalanan menuju kesekolah sudah menjadi
sahabat kami. Kami hafal diluar kepala tiap seluk beluk jalan. Dari jalan
setapak tanah yg kalo hujan licinya minta ampun, dari yg hanya ada 1 pabrik
kayu yg lain ladang sampai sekarang hampir semuanya menjadi pabrik, ya kami
hafal. Masa sekolah dasar, bahagia sekali masa berteman tanpa mengenal kasta.
Sekolah tak terasa seperti sekolah, bagaimana bisa seluruh muridnya berasal
dari desa yg sama yg sudah kita kenal sejak lama dari mulai nenek buyutnya, guru-gurunya
tak lain juga tetangga kami sendiri bahkan ada salah satu guru SD yg terkenal
paling killer merupakan adik dari kakekku sendiri alhasil gak pernah keluar
uang jajan, lengkap sudah kebahagiaan masa SD. Hihihihihi...
Nah sepulang sekolah, ba’da dhuhur setelah makan siang
biasanya kami kumpul nih diperempatan jalan. Dari situ kami akan bermain
sepuasnya, membaur tanpa mengenal perbedaan apapun dari mulai kalangan anak
kecil kayak aku sampai yg senior yakni anak-anak kelas 5-6 SD, cewek cowok,
semuanya bersatu. Tak jarang pula lho
saking asyiknya para remaja yg sudah smp, sma, bekerja atau bahkan bapak” ibu”
ikut bergabung bersama kita. Pokoknya seru sekali. Main apa kita ? Tergantung
musim, Terkadang kita main lompat tali kami sering sebut permainan yeye dan
somprengan, kadang kami main gerobak slodor, gerobak bolong, kasti, banjet ban
jeblos, tok tok nenek gerondong, kaleng-kalengan , sondah, sayak-sayakan, apalagi
ya saking banyaknya sampe lupa. Sering
sebel pas masih dibawah kelas 3 SD palingan Cuma jadi pemain pupuk bawang alias
peman bohongan yg itu lho kalo mati atau kalah bisa diwakilin sama anak yg
lebih besar jadi bisa tetep lanjut ke tahap berikutnya. Nah biasanya kalou dah ada tukang bakso lewat
alias jam 3 para ibu-ibu akan teriak” manggil anaknya masing-masing buat mandi
terus ngaji di TPA. TPA itu taman pembelajaran Al-Qur’an, didusun kami namanya
TPA Hidayatul Bubtadi’in. Cukup terkenal lho setiap ada lomba peringatan Tahun
Baru Islam 1 Muharram pasti kami menang. DI TPA ini juga kami sangat menikmati,
teman yg sama dan ustadnya tetangga kita juga. Kami selesai ngaji pukul 5 sore
biasanya langsung pulang kerumah masing-masing. Nanti kumpul lagi saat shalat
maghrib di Mushala. Selepas maghrib kami teruskan permainan tadi siang dibawah
terang bulan, ditemani para ibu” dan bapak” yg asyik bercengkrama sambil
mengawasi anak mereka. Indah sekali bukan J
Masa bahagia itu berakhir ketika satu per satu anak-anak SD
lulus dan masuk SMP. Termasuk aku, kebanyakan dari kami bersekolah di SMP
sekitar pringsurat atau Temanggung. Dan aku sendiri mencar sampe ke kota
Magelang. Nah lepas dari situ, mulailah fase kehidupanku yg baru. Kehidupan yg
mulai sibuk, mulai mengkhawatirkan masa depan, mulai berani bermimpi. Hingga saat
ini, aku berada di tempat yg tak kusangka sebelumnya bersama orang-orang hebat
ditempat yg hebat dan dipersatukan dalam program PPA yg hebat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar