Jumat, 13 November 2015

“Kita memiliki waktu yg lebih sedikit untuk berpikir. Kita sering kali ‘sudah ditunggu‘ oleh apapun. Kita menjadi sering diburu-buru oleh siapa saja. Kita kehilangan waktu untuk diam." - INDUKSI PPA

Sekelumit kalimat saat induksi PPA 4hampir 4 bulan lalu. Membuatku teringat masa kecilku yg damai.

Entah mulai kapan waktu terasa begitu cepat. Seakan 24 jam terasa tak cukup untuk melakukan berbagai kegiatan rutin. Jadi seperti ini rasanya menjadi orang sibuk di kota yg super sibuk.  Haii.. tak terasa waktu memang berlalu begitu cepat. Rasanya baru kemarin aku terlahir sebagai seorang anak di desa sederhana yang bersahaja. Desa dengan penduduk mayoritas muslim. Desa dengan profesi penduduk yg bisa dihitung jari antara petani, pedagang, peternak, dan guru.  Mushala yang tak pernah sepi setiap datang panggilan 5 waktu. Jalanan yg setiap pagi di penuhi para warga baik ibu-ibu dengan menggendong bakul di punggungnya maupun bapak-bapak berbekal celurit dan tali dari pelepah pisang ke ladang maupun sawah. Dan bisa pastikan keadaan akan ramai kembali menjelang pukul 12 siang, mereka semua akan pulang membawa hasil ladang seperti kayu bakar, aneka buah dan sayur dll. Ahh sungguh kurindukan saat-saat bertegur sapa dengan mereka.

Siapa bilang terlahir sebagai anak desa itu membosankan ?? Jujur sampai detik ini selalu kurindukan masa kecilku yg bahagia di lingkungan pedesaan. As your information aja nih ya,  Desaku cukup terkenal dikecamatan pringsurat bahkan sampai ke kabupaten temanggung. Kenapa ?? karena terkenal makmurnya wkwkwk.. banyak komiditi kualitas unggulan hasil dari sini seperti kelengkeng, AC, duku, langsep, kokosan, salak pondoh, durian, madu murni dan masih banyak lagi. Jangan salah ya walaupun masih sekelas home industry tapi karena terkenal kualitasnya banyak lho pelanggan yg dari luar daerah seperti semarang, jakarta, bandung, bahkan bisa sampai ke sumatera. Hebatt kann :*****

Mengenang masa kecil selalu membuatku senyum-senyum sendiri.  Masa bahagia, tanpa memikirkan apapun, tanpa mengkhawatirkan hari esok. Saat itu yg kami tahu hanya bermain. Berangkat sekolah pagi-pag ibareng satu kampung rame-rame sangat menyenangkan. Sekolah kami agak jauh sekitar 200m dari  rumah terletak didusun tetangga masih satu desa. Biasanya kami berangkat sekolah jalan kaki tapi ada juga sih beberapa anak manja yg dianter pake motor. Jalanan menuju kesekolah sudah menjadi sahabat kami. Kami hafal diluar kepala tiap seluk beluk jalan. Dari jalan setapak tanah yg kalo hujan licinya minta ampun, dari yg hanya ada 1 pabrik kayu yg lain ladang sampai sekarang hampir semuanya menjadi pabrik, ya kami hafal. Masa sekolah dasar, bahagia sekali masa berteman tanpa mengenal kasta. Sekolah tak terasa seperti sekolah, bagaimana bisa seluruh muridnya berasal dari desa yg sama yg sudah kita kenal sejak lama dari mulai nenek buyutnya, guru-gurunya tak lain juga tetangga kami sendiri bahkan ada salah satu guru SD yg terkenal paling killer merupakan adik dari kakekku sendiri alhasil gak pernah keluar uang jajan, lengkap sudah kebahagiaan masa SD. Hihihihihi...

Nah sepulang sekolah, ba’da dhuhur setelah makan siang biasanya kami kumpul nih diperempatan jalan. Dari situ kami akan bermain sepuasnya, membaur tanpa mengenal perbedaan apapun dari mulai kalangan anak kecil kayak aku sampai yg senior yakni anak-anak kelas 5-6 SD, cewek cowok, semuanya bersatu.  Tak jarang pula lho saking asyiknya para remaja yg sudah smp, sma, bekerja atau bahkan bapak” ibu” ikut bergabung bersama kita. Pokoknya seru sekali. Main apa kita ? Tergantung musim, Terkadang kita main lompat tali kami sering sebut permainan yeye dan somprengan, kadang kami main gerobak slodor, gerobak bolong, kasti, banjet ban jeblos, tok tok nenek gerondong, kaleng-kalengan , sondah, sayak-sayakan, apalagi ya saking banyaknya sampe lupa.  Sering sebel pas masih dibawah kelas 3 SD palingan Cuma jadi pemain pupuk bawang alias peman bohongan yg itu lho kalo mati atau kalah bisa diwakilin sama anak yg lebih besar jadi bisa tetep lanjut ke tahap berikutnya.  Nah biasanya kalou dah ada tukang bakso lewat alias jam 3 para ibu-ibu akan teriak” manggil anaknya masing-masing buat mandi terus ngaji di TPA. TPA itu taman pembelajaran Al-Qur’an, didusun kami namanya TPA Hidayatul Bubtadi’in. Cukup terkenal lho setiap ada lomba peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharram pasti kami menang. DI TPA ini juga kami sangat menikmati, teman yg sama dan ustadnya tetangga kita juga. Kami selesai ngaji pukul 5 sore biasanya langsung pulang kerumah masing-masing. Nanti kumpul lagi saat shalat maghrib di Mushala. Selepas maghrib kami teruskan permainan tadi siang dibawah terang bulan, ditemani para ibu” dan bapak” yg asyik bercengkrama sambil mengawasi anak mereka. Indah sekali bukan J

Masa bahagia itu berakhir ketika satu per satu anak-anak SD lulus dan masuk SMP. Termasuk aku, kebanyakan dari kami bersekolah di SMP sekitar pringsurat atau Temanggung. Dan aku sendiri mencar sampe ke kota Magelang. Nah lepas dari situ, mulailah fase kehidupanku yg baru. Kehidupan yg mulai sibuk, mulai mengkhawatirkan masa depan, mulai berani bermimpi. Hingga saat ini, aku berada di tempat yg tak kusangka sebelumnya bersama orang-orang hebat ditempat yg hebat dan dipersatukan dalam program PPA yg hebat. 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar